lowest point

Everyone has their lowest points. Yes, so do i.

Beberapa hari yang lalu, mungkin tepatnya beberapa minggu, aku di dalam situasi tersebut. Situasi yang udah jarang aku rasain akhir-akhir ini. Trigger-nya simpel, karena pasien. Sebenarnya nggak simpel juga sih karena pasien salah satu faktor penentu kapan aku bisa lulus, tapi pasien batal atau apapun yang berhubungan dengan diundurnya perawatan (yang berarti mengundur kelulusan L) sudah biasa terjadi di kehidupan koas FKG.

Lalu kenapa aku ngerasanya terpuruk banget?

  1. Aku menyadari karena hormon sih
  2. Karena segala masalah pribadi di tahun terakhir ini yang terus mendesakku berpikir untuk “lulus secepatnya dan cari uang sendiri biar nggak ngerepotin orang tua yang nan jauh disana dan sering komplain”
  3. Ada sesuatu yang sudah aku rencanakan tapi kemudian harus mundur jauh banget karena satu dan lain hal yang nggak bisa dikontrol oleh aku sendiri. This is the hardest part of being dentistry coass: it can’t depend on yourself. This one is so frustrating.
  4. Setelah semua pikiran lagi campur aduk, pagi itu aku sudah mengumpulkan niat dan semangat untuk merawat pasien ini yang mana aku mau acc tahap terakhir sehingga aku bisa ikut ujian. Ketika semua semangat sudah terkumpul, tiba-tiba pasien sms bilang batal ke RSGM… Mulai deh pikiran berantakan lagi, gimana kalau pasienku nggak akan pernah datang lagi? Batal lagi rencanaku? Cari pasien lagi? Mau ngerjain berapa bulan lagi untuk kasus yang perawatannya panjang ini? Berapa dana yang harus dikeluarkan lagi? Pikiranku makin campur aduk, di tengah jalan mau ke RSGM (untuk nggak ngerjain apapun karena nggak ada pasien lagi) rasanya air mata udah di pelupuk mata.

Jarang-jarang aku sedih kayak gitu karena menurutku lebih banyak downs yang pernah aku alami dan lebih menyedihkan dari hal itu, yang membuatku merasa lebih tegar. Karena itulah aku berkesimpulan kemarin aku dipengaruhi juga dengan hormon, yang membuat perempuan lebih sensitif dari biasanya. Lalu yang bisa aku lakukan dan langsung aku lakukan saat itu, CURHAT! Curhat sama Yang Mahamengatur segala hal di dalam dunia ini. Dan tentunya setelah itu berusaha agar pasien tadi melanjutkan perawatannya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s