Jodoh Pasti Bertemu

Not only a lil bit selfie won’t hurt you, but a lil experience share also won’t hurt you :p

Kemarin pas aku buka salah satu aplikasi chatting, aku membaca post yang sangat menarik. Post tentang islam yang mencakup suatu hubungan, masa depan dan ibadah. Pasti sudah nggak asing lagi kan sama Ust. Felix Siauw? Terutama dengan post dan hesteknya yang cukup controversial #UdahPutusinAja. Nah kemarin aku baca post dari beliau di timeline akun dakwah. Isinya sudah aku captured:

1 2 3

Dengan kata-katanya, aku sedikit (atau banyak ya?) flashback. Dulu aku memang nggak menganut paham ta’aruf dan langsung khitbah. Aku dulu mikir, gimana caranya? Kayak beli kucing dalam karung dong? Ini aja aku pacaran tetep kecele terus, awalnya yang udah aku nilai baik pas udah jadian ternyata berubah, beda lagi. Yang tadinya udah jadi nilai plus, ternyata pura-pura doang pas sebelum jadian. Duh.

Kemudian ada tahap dimana aku mulai agak nggak percaya dengan yang namanya cowok. Dengan segala latar belakangku dan pengalaman tadi, aku mulai malas, malas sakit hati lagi malas buang waktu lagi. Yang tadinya aku pacaran cuma ‘agak serius’, pertanyaan tentang masa depan cuma diselip-selipin di percakapan, sekarang aku maunya yang serius banget, mirip kayak katanya pak ustadz di poin 12. Tapi ya pada saat itu aku belum siap untuk menikah juga sih karena masih banyak yang harus aku raih, aku masih pada fase ‘tapi pacaran kita harus menuju kesana (pernikahan)’. Di titik ini aku tambah ketat memilah dan memilih orang yang baik, beriman dan bisa bertanggung jawab (sosok imam yang baik gitu lah), aku agak malas membalas chat yang keliatannya cuma mau deketin main-main, kecuali buat temenan lho ya

Kenapa aku menekankan poin 12 ini, disini contoh hal yang memang sudah jodohnya, sudah jalannya. Karena aku sendiri pernah dalam situasi mirip dan nggak berakhir seperti beliau. Karena pada dasarnya merealisasikan omongan itu nggak semudah saat bikin mimpi, ngomong dan ngumbar janji. Ya simpelnya menurutku sih, memang belum waktunya.

Lagi asik-asik sendiri, tiba-tiba ada aja yang dateng berani ngomong langsung ke mama. Intinya kayak share ini lho rencana saya ke depan, niatnya begini sama anak tante walaupun masih beberapa tahun lagi dan bla bla bla, meyakinkan orang tuaku (tapi suasananya bukan resmi kayak orang melamar gitu ya, cuma ada kami bertiga). Nampaknya persis seperti kata pak ustadz di nomor 12. Orang tua lantas mikir ini anak berani ngomong gini dan masa depannya kayak udah tertata. Yaudah aja dapet nilai plus. Namun beberapa bulan kemudian NOL BESAR.

Lagi-lagi kecele. Sampai yang jelas terlihat alim pada awalnya pun, ternyata cuma pemanis yang kemudian berubah. Aku mulai berubah pada tahap, aku harus melihat yang bagaimana lagi? Yang awalnya baik ternyata nggak, awalnya serius ternyata omongan aja dan yang terlihat alim nyatanya cuma dijadikan kedok penarik hati orang.

But thanks for all of this experience tho

imam as shafii aamiinIya, disini aku sadar (mungkin karena makin dewasa ya). Semuanya, jalan ini, sudah yang terbaik untukku dari Allah. Malah aku bersyukur Allah guides me every time. Yang Maha Mengetahui menunjukkan yang terbaik untukku secepat itu, tanpa aku harus membuang waktu lebih banyak mencoba dengan orang yang salah. Semua orang di sekitarku yang tahu ceritaku selalu bilang, Alhamdulillah, daripada sudah menikah bahkan punya anak lalu baru ditunjukkan keganjilan yang aneh-aneh kayak gitu. Jika sudah terlanjur seperti itu kamu bakal lebih repot.

And those things made me who I am.

Akhir-akhir ini orang2 terdekat sering tanya, “Bon sekarang pacarmu siapa sih kok nggak pernah keliatan”

Aku jawab santai “Nggak ada, emang udah lama nggak pacaran”

Mereka jawab lagi “Ah masa? Kenapa?”

Aku mikir, ya kenapa harus

Dan pada tahap inilah aku sekarang,

Aku mikir serumit apapun kita memilih, kita manusia biasa yang cuma bisa melihat apa yang tampak di luar. Apa yang dipilih orang tersebut untuk diperlihatkan ke orang lain. Siapa yang tahu aslinya seseorang? Terlihat alim dan baik secara superfisial, tapi Allah serba tahu, kemudian Ia menunjukkan yang sebenarnya. Yang bisa kita lakukan, berdoa agar Allah selalu membimbing, mempertemukan dan mendekatkan pasangan yang terbaik untuk kita. Karena jodoh hanya Ia yang tahu kan.

Aku juga sadar, hei mimpiku masih banyak sekali, kalau tiba-tiba besok ada yang melamar dan serius, sepertinya akupun belum siap. Lantas kenapa aku sekarang terlalu memikirkan hal tersebut? Aku mulai merasa fokus menata diri sendiri adalah prioritas utama untukku sekarang. Namun juga tidak menutup diri untuk menyambung silaturahim. Aku yakin jodoh bisa datang dari mana saja, bisa siapa saja. Who knows? Banyak kok contoh pasangan yang nggak perlu waktu lama dari menjalin hubungan hingga naik ke pelaminan. Menurutku ya kalau memang sudah saatnya didekatkan dengan jodoh kita, pasti akan ada rasa ‘he’s the one’ ketika saat yang telah diarahkan oleh Allah telah datang, dan akan muncul kesiapan yang dibutuhkan, bagaimanapun caranya, mungkin dengan langsung khitbah? We never know 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Jodoh Pasti Bertemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s