Jangan Tunggu Sakit untuk Ke Dokter Gigi

“Dok, ada pasien dua orang, tapi…”

Tepat 1 minggu yang lalu, nggak ada yang aneh saat memulai jaga hari Kamis lalu, tapi ada yang menarik untuk diceritakan. Ada satu kejadian yang bisa menjadi reminder bagi kita bahwa pekerjaan ini bukan pekerjaan untuk memperkaya diri, karena salah satu kewajiban terbesar kita sebenarnya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat. Dua orang laki-laki masuk ke klinik dan terlihat ngobrol dengan customer service (yang selanjutnya bakal kusebut CS). Nggak lama mereka duduk, menulis biodata dan langsung masuk ke arah meja billiard. Aku sempat melihat sedikit dari office (karena meja billiard berada segaris dengan pintu office). Ternyata 2 orang laki-laki itu lebih pas disebut  2 remaja laki-laki, gumanku sambil kembali fokus ke laptop. Nggak kusadari teteh CS sudah masuk ke ruang office dan bilang,

“Dok, ada pasien dua orang, tapi katanya minta diskon,” kata teteh CS sambil senyum-senyum, keliatannya teteh agak nggak enak ngomong ke aku masalah request pasien ini.

Memang sih di klinik ini ada program diskon. Dari manajemen, dokter gigi diperbolehkan memberikan diskon hingga beberapa persen (ra-ha-si-a :p). Tapi minggu kemarin kukira sudah nggak bisa kasih diskon.

“Lho emangnya masih bisa kasih diskon ke pasien?” tanyaku.

“Masih bisa dok,  diskon paling gede **%, mau ngasih diskon berapa ke pasiennya teh  mangga sesuai  kerelaan dokter.” Jawab teteh CS masih sambil senyum-senyum.

“Oh masih, kukirain udah lewat promo ngasih diskonannya, yaudah aku sih gapapa teh,”

“Jadi gapapa dok? Yaudah, kita siapin ya dok.”

Lagi asyik main billiard berdua, laki-laki pertama saya panggil untuk masuk ke ruangan perawatan. Seperti biasa, aku melakukan sesi pengenalan diri ke pasien dan menanyakan keluhan. Dari pengamatanku, pasien ini adalah anak SMA. Aku kira keluhannya adalah sesuatu yang sangat mengganggu dan menyakitkan dirinya seperti abses atau gigi sakit berdenyut sehingga ia menyempatkan datang ke klinik gigi tanpa orang tua. Ternyata dia bilang giginya terasa kotor.

“Ini dok, giginya kotor, kayaknya staining ini.”

“Terakhir ke dokter gigi buat scaling 5 bulan yang lalu.” Tambahnya setelah kutanya kapan dia terakhir ke drg dan perawatan apa yang dilakukan.

Dalam hati, “wah hebat juga ini anak tau istilah staining segala.” Setelah pemeriksaan, memang ternyata giginya lebih banyak stain,  sedikit karang gigi.

“Wah banyak stainnya, maaf, kamu  ngerokok nggak?” Tanyaku

“Nggak dok, masa atlet ngerokok,” jawabnya sambil ketawa

“Seriusan kamu atlet? Atlet apa?”

“Nggak dok, becandaa”

“Oke berarti kamu suka minum teh atau kopi?” Tanyaku lagi

“hehe iya dok setiap hari minum kopi.”

Nah dari situ aku bisa ngasih edukasi kalo stain gigi itu biasanya dari rokok, residu teh dan kopi yang biasa diminum pasien dan dalam hal ini berarti dari kopi. Dia ngangguk2 sambil haa hoo haa hoo.

Sambil scaling, aku mengamati gigi-giginya yang sudah cukup rapi.  Setelah berbagai percakapan saat perawatan, ternyata memang benar dia udah pernah pakai alat ortho fix. Makin amazed, anak ini kayaknya memang udah mengerti pentingnya kesehatan gigi dan mulut.

Nggak jauh beda dari pasien pertama, pasien berikutnya juga udah mengerti beberapa terminologi kedokteran gigi. Sekitar 1 setengah jam akhirnya selesai juga perawatan kedua anak ini dan sesuai janji, diskon buat keduanya. Capek? (yah namanya juga kerja) tapi rasanya lega pas tau ada dua anak SMA, cowok, datang ke klinik gigi tanpa orang tuanya. Bukan karena sakit yang amat mengganggu tapi karena stain dan karang gigi. Memberanikan diri untuk minta diskon daripada membiarkan gigi dan gusinya kotor. Senang sekali melihat mereka sudah concern dengan kesehatan gigi dan mulutnya. Coba kamu aja pasti ke dokter gigi kalo udah sakit banget giginya atau ngeganggu aktivitas ya? Kita perlu lebih banyak masyarakat yang sadar pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Bukan yang datang ke dokter gigi karena udah sakit parah, bahkan kalo nggak terpaksa udah sakit nggak tertahan dan obat nggak mempan, anti banget ke dokter gigi. Ada masalah dengan gigi dan mulutmu? Sudah lebih dari 6 bulan nggak ke dokter gigi? Yuk periksa ke dokter gigi.

Advertisements

One thought on “Jangan Tunggu Sakit untuk Ke Dokter Gigi

  1. Wihiiw canggih juga tuh anak SMA.

    Aku oernah sekali pas di Bintan scaling sama dokter gigi sana. Dan kapok… Dokternya scaling sambil ngobrol sama temenku yg jg anak FK dan parahnya doi gak pake masker…

    Dudduuu horror hahah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s