Bahagia Itu Sederhana

Lucu, Kamis kemarin saat praktik sore aku tertawa sendiri. Seharian entah kenapa pikiranku mumet banget, sebagian besar karena aku memikirkan hal-hal sepele, yang sebenarnya nggak akan pernah bisa aku kontrol dengan kapasitasku sebagai manusia. Tapi semuanya berubah setelah maghrib, mungkin berkah Jumat, mungkin karena (lagi-lagi) kebaikan bos.

Tiba-tiba bosku datang membawa brosur berisikan produk-produk kedokteran gigi.

“Ini dek, buat dibaca-baca.”

Sambil aku baca-baca dan catat apa yang perlu aku cari dan pelajari lagi (biar kalau beli alat-alat tahu mana yang benar-benar bagus dan berguna), di saat itulah aku tertawa sendiri.

Tunggu.

Beruntung sekali aku punya bos yang perhatian.

Hei, bahagia itu sederhana. Sesederhana perhatian yang sekecil ini, sesederhana kata “hati-hati” dari bapak penjaga parkir, sesederhana senyuman dari pasien.

Bodohnya aku hampir luput dengan mensyukuri kebahagiaan ini.

Aku langsung flashback dengan apa yang aku tempuh. Ya ampun, beruntung sekali aku diberkahi orang-orang yang perhatian sama aku. Dan mereka adalah orang-orang yang nggak pernah aku duga bisa kenal baik seperti sekarang, mereka yang nggak punya ikatan darah sekalipun sama aku.

Alhamdulillah, aku merasa begitu banyak pintu sudah dibukakan padaku. Sehingga banyak orang-orang yang memiliki dugaan yang salah atas hidupku sekarang ini. Dugaan yang membuatku berpikir dan lebih bersyukur untuk ke sekian kalinya, bahwa tempatku sekarang ini adalah tempat yang istimewa, tempat yang banyak diincar.

“Kok, kamu bisa praktik disitu? Naruh saham?”

Nggak sedikit pertanyaan ini terlontar baik dari teman maupun senior ketika mengetahui dimana aku praktik. Pertanyaan yang malah membuatku baru mengerti bahwa sebenarnya hampir semua TS di tempatku praktik adalah para penaruh saham di klinik. Aku? Apa yang aku punya?

“Kamu mah enak ya Bon, ada koneksi.” Kata teteh senior yang tempo hari baru kutemui. Kita sedang bercerita tentang berkarir di fakultas.

“Hahaha ada koneksi apa ya teh maksudnya?” Tanyaku.

“Iya, ayah dokter ya? Ibu dokter juga?” Jawabnya. Oh, kesitu maksudnya kataku dalam hati. Padahal nggak sama sekali. Aku tertawa,

“Nggak teeh, bukan. Koneksiku ya dari ikut-ikut kepanitiaan aja, dari situ jadi kenal. Nah tadi ketemu sama drg A terus ditawarin buat di bagiannya, ketemu sama drg B terus ditawarin di bagian lain, gitu-gitu aja teh.” Jawabku,

Kadang aku sedih kalau melihat orang disekitarku mengeluh, cobaan seumur hidup, katanya. Psst! Setiap manusia itu pasti diberikan cobaan, ketika meninggalpun kita akan diberi cobaan berupa pertanyaan-pertanyaan dari Munkar Nakir. Semuanya tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apa kamu mau terus fokus dengan cobaan tersebut atau selalu mencoba positif dengan mencari brightside di setiap hal?

a

Yang aku tau pasti, semuanya sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Everything happens for a reason and in fact, you also have a reason to stand on your place now. Alasannya apa, itu yang harus kita cari. Untuk mendapat alasan yang baik, kita juga harus menjernihkan pikiran dan selalu berpikir positif. Karena ketika kamu positif, kamu akan bersyukur, dan percayalah Tuhan akan menggerakkan alam semesta ini untuk menambah nikmatmu.

b

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia Itu Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s