Chasing Pavements

image

Beberapa saat yang lalu, aku membaca buah karya Najwa Zebian yang berjudul Mind Platter. Terdapat satu hal yang menggelitikku saat ini. Hal yang sesungguhnya aku percayai itu adalah hal yang benar, namun aku mengalami situasi yang…..entah harus kusebut apa. Yang membuatku berpikir dua kali, bahkan mungkin sudah berkali-kali, mengenai apa yang harus kuperbuat dan apakah yang telah kuperbuat ini benar.

Sebagai manusia, aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Aku, mencoba sekuat tenaga walau terkadang di dalam lingkungan yang kurang mendukung. Biasanya aku berhasil, aku tetap pada pendirianku. Menjadi pribadi yang lebih baik, tak peduli bagaimana orang lain memperlakukanku.

Namun rasanya ini adalah titik dimana aku tidak mengerti harus ke arah mana aku berjalan. Aku tidak ingin menjadi orang yang keji, tapi rasanya hal ini memaksaku untuk menjadi seperti itu. Pernahkah kamu di situasi dimana kamu harus memilih antara kamu yang akan menjadi orang yang selalu tersakiti ataukah kamu yang harus (mungkin) menyakiti? (Mungkin, jika ia ternyata masih memiliki hati)

Sabar. Kata orang, sabar memiliki batas. Tapi batas kesabaran berarti adalah tidak sabar. Lalu, ketika kesabaranmu hanya menuntunmu menuju sesuatu yang entah bagaimana ujungnya, apa yang seharusnya kamu lakukan? Kamu tahu tidak semua hal akan berakhir manis. Namun yang selalu kamu dapat hanyalah kata bahwa kamu harus bersabar.

Kembali ke Najwa Zebian, kata-katanya seperti ini

image

Aku tahu itu, aku tidak mengelak dari kebenaran kata-kata itu. Namun itu adalah hal yang sangat sulit. Memang, menginvestasikan dan berharap kepada manusia itu ujungnya mengecewakan. Tapi, apakah mereka yang berhasil mewujudkan fairy tale versinya sendiri tidak pernah berharap pada manusia? Sedikitpun?

Aku memang tidak pernah berharap sesuatu in return. Aku cuma ingin berbuat baik, itu saja. Tapi mungkin memang ada bedanya jika kita melakukan itu ke orang yang kita pikir akan peduli dengan kita dan perasaan kita. Tapi nyatanya, ketika kita ditunjukkan bahwa orang tersebut tidak seperti apa yang kita pikirkan. Ujungnya adalah kecewa.

Aku jadi teringat percakapan Landon dan Jamie di film A Walk To Remember sesaat setelah Landon berpura2 tidak dekat dengan Jamie & tampak malu jika teman-temannya mengetahui mereka berdua dekat. Memang mengecewakan jika apa yg  awalnya kita pikirkan ternyata tidak benar.

image

Mungkin bukan berarti bahwa kita tidak tulus melakukan apa yang kita lakukan.

Mungkin bukan berarti kita mengharapkan imbalan atas apa yang kita lakukan.

Mungkin itu adalah arti bahwa kita hanyalah manusia biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s